aifpunews.com

media informasi masa kini

‘ KICAU Karni Ilyas ‘Benarkah RS Mengcovidkan Semua Pasien Meninggal’ Banjir Protes ‘ILC Tak Peka

Biasanya menuai decak kagum, kali ini presenter Talkshow ILC TV One Karni Ilyas justru diprotes habis habisan oleh netizen. Bak senjata makan tuan, cuitan Karni Ilyas di akun Twitternya kini justru jadi bumerang. Pembawa acara ILC TV One tersebut diprotes habis habisan oleh netizen lantaran dituding mengalihkan isu.

Bagaimana tidak, di tengah gejolak penolakan UU Cipta Kerja, Karni Ilyas dkk justru mengangkat tema soal Covid 19 di acara ILC TV One, Selasa (6/10/2020). Netizen pun langsung mendesak Karni Ilyas dkk mengganti tema tersebut dan membahas soal UU Cipta Kerja. Protes netizen ini berawal dari cuitan Karni Ilyas di akun Twitternya @Karniilyas.

"Dear Pencinta ILC: Diskusi kita Selasa Pkl 20.00 berjudul, "Benarkah RS Mengcovidkan Semua Pasien Meninggal?" Selamat menyaksikan. #ILCRumahSakitDituduh" tulis Karni sejak Senin (5/10/2020). Selanjutnya, ratusan akun tiba tiba menyerbu pria yang sering disapa datok itu. Cek komentar netter:

@Muhsyafei13: Isu covid itu hanya pengalihan isu agar smua brajalan lancar,, Paa karni yg terhormat apakah ilc tidak peka ada maslah besar didepan mata UU cipta kerja jadilah media yg kritiss dan bukan media yg beritanya pesanan,, #celotehan guee @Apriyawann: Tolong temanya diganti. Tentang topik ini publik sudah jengah & bosan pak karni. Percayalah. Sekarang yg sedang panas bukan hangat. Adalah sahnya omnibuslaw. Tolonglah angkat topik ini. Kami memohon dengan amat sangat pak karni @Firman888: Mslh covid msyrkt sdh bnyk tau kebusukan ny datuk.Omnibuslawdatuk klo bisa knp ko disah kn nya malam2… Apa biar di liat krja nya smpe malam2 pr penjahat bangsa atau ada kebusukan yg lain nya

@AbdurrochmanE: Aduh,,,, datuk @karniilyas, knp lgi2 bhs corona?, omnibus yg kbrnya di sahkan dn di dkung myoritas partai itu sngt ptg mestiny utk di bhs pkan ini, krn soal corona rata2 masy.skrg mgkin sdh ga mau tau sbb kesimpangsiuran apapun yg brkaitn dg corona yg tjd SEJAK AWAL mnculny kasus @GesangIndra: Pak karni mohon selasa depannya bahas Omnibus Law yang disahkan dong. Undang juga perwakilan dari DPR, para Buruh dan aktivis HAM supaya ada titik tengah. Terima kasih @Rehatsejenek3: Tolong bahas omnibus law

@kikiset67213551: Aduh kok @ILCtv1 malah ini sih Kenapa bukan omnibus lah omnibus lah omnibus lah omnibus lah omnibus lah omnibus lah omnibus lah omnibus lah omnibus lah omnibus lah Alasan pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi 'paksakan' omnibus law RUU Cipta Kerja disahkan, ternyata ini tujuannya.

Di tengah lantangnya penolakan berbagai elemen masyarakat sipil,omnibus lawRUU Cipta Kerja resmi disahkan menjadi undang undang melalui rapat paripurna DPR RI, Senin (5/10/2020). UU Cipta Kerjaterdiri atas 15 bab dan 174pasal. Di dalamnya mengatur mengenai ketenagakerjaan hingga lingkungan hidup.

Pemerintah yang diwakili Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan alasan pentingnya RUU Cipta Kerja. RUU Cipta Kerja diperlukan untuk meningkatkan efektivitas birokrasi dan memperbanyak lapangan kerja. Menurut dia, RUU Cipta Kerja akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah.

"Kita memerlukan penyederhanaan, sinkronisasi, dan pemangkasan regulasi. Untuk itu, diperlukan UU Cipta Kerja yang merevisi beberapa undang undang yang menghambat pencapaian tujuan dan penciptaan lapangan kerja," ujar Airlangga Hartarto. "UU tersebut sekaligus sebagai instrumen dan penyederhanaan serta peningkatan efektivitas birokrasi," lanjut dia. Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani mengatakan, UU Cipta Kerja akan mampu membangun ekosistem berusaha yang lebih baik.

Menurut Puan, pembahasan UU Cipta Kerja yang dimulai DPR dan pemerintah sejak April hingga Oktober dilakukan secara transparan dan cermat. Dia menegaskan, muatan UU Cipta Kerja mengutamakan kepentingan nasional. "RUU ini telah dapat diselesaikan oleh pemerintah dan DPR melalui pembahasan yang intensif dan dilakukan secara terbuka, cermat, dan mengutamakan kepentingan nasional, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang," kata dia.

Kompas.com mencatat beberapa pasal bermasalah dan kontroversial dalam Bab IV tentang Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja, di antaranya sebagai berikut: UU Cipta Kerja menghapus aturan mengenai jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak. UU Cipta Kerja menyebutkan, ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaan, jangka waktu, dan batas waktu perpanjangan perjanjian kerja waktu tertentu diatur dengan peraturan pemerintah.

Sebelumnya, UU Ketenagakerjaan mengatur PKWT dapat diadakan paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu kali untuk jangka waktu paling lama satu tahun. Ketentuan baru ini berpotensi memberikan kekuasaan dan keleluasaan bagi pengusaha untuk mempertahankan status pekerja kontrak tanpa batas. Hak pekerja mendapatkan hari libur dua hari dalam satu pekan yang sebelumnya diatur dalam UU Ketenagakerjaan dipangkas.

Pasal 79 ayat (2) huruf (b) mengatur, pekerja wajib diberikan waktu istirahat mingguan satu hari untuk enam hari kerja dalam satu pekan. Selain itu, Pasal 79 juga menghapus kewajiban perusahaan memberikan istirahat panjang dua bulan bagi pekerja yang telah bekerja selama enam tahun berturut turut dan berlaku tiap kelipatan masa kerja enam tahun. Pasal 79 ayat (3) hanya mengatur pemberian cuti tahunan paling sedikit 12 hari kerja setelah pekerja/buruh bekerja selama 12 bulan secara terus menerus.

Pasal 79 Ayat (4) menyatakan, pelaksanaan cuti tahunan diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Kemudian, Pasal 79 ayat (5) menyebutkan, perusahaan tertentu dapat memberikan istirahat panjang yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. UU Cipta Kerja mengubah kebijakan terkait pengupahan pekerja.

Pasal 88 Ayat (3) yang tercantum pada dalam Bab Ketenagakerjaan hanya menyebut tujuh kebijakan pengupahan yang sebelumnya ada 11 dalam UU Ketenagakerjaan. Tujuh kebijakan itu, yakni upah minimum; struktur dan skala upah; upah kerja lembur; upah tidak masuk kerja dan/atau tidak melakukan pekerjaan karena alasan tertentu; bentuk dan cara pembayaran upah; hal hal yang dapat diperhitungkan dengan upah; dan upah sebagai dasar perhitungan atau pembayaran hak dan kewajiban lainnya. Beberapa kebijakan terkait pengupahan yang dihilangkan melalui UU Cipta Kerja tersebut, antara lain upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya, upah untuk pembayaran pesangon, serta upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

Pasal 88 Ayat (4) kemudian menyatakan, "Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan pengupahan diatur dengan Peraturan Pemerintah". Aturan mengenai sanksi bagi pengusaha yang tidak membayarkan upah sesuai ketentuan dihapus lewat UU Cipta Kerja. Pasal 91 ayat (1) UU Ketenagakerjaan mengatur pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang undangan yang berlaku.

Kemudian Pasal 91 ayat (2) menyatakan, dalam hal kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih rendah atau bertentangan dengan peraturan perundang undangan, kesepakatan tersebut batal demi hukum, dan pengusaha wajib membayar upah pekerja/buruh menurut peraturan perundang undangan yang berlaku. Selain tercantum pada Pasal 91, aturan soal larangan membayarkan besaran upah di bawah ketentuan juga dijelaskan pada Pasal 90 UU Ketenagakerjaan. Namun, dalam UU Cipta Kerja, ketentuan dua pasal di UU Ketenagakerjaan itu dihapuskan seluruhnya.

Selain itu, UU Cipta Kerja menghapus hak pekerja/buruh mengajukan permohonan pemutusan hubungan kerja (PHK) jika merasa dirugikan oleh perusahaan. Pasal 169 ayat (1) UU Ketenagakerjaan menyatakan, pekerja/buruh dapat mengajukan PHK kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial jika perusahaan, di antaranya menganiaya, menghina secara kasar, atau mengancam. Pengajuan PHK juga bisa dilakukan jika perusahaan tidak membayar upah tepat waktu selama tiga bulan berturut turut atau lebih.

Ketentuan itu diikuti ayat (2) yang menyatakan pekerja akan mendapatkan uang pesangon dua kali, uang penghargaan masa kerja satu kali, dan uang penggantian hak sebagaimana diatur dalam Pasal 156. Namun, Pasal 169 ayat (3) menyebutkan, jika perusahaan tidak terbukti melakukan perbuatan seperti yang diadukan ke lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial, hak tersebut tidak akan didapatkan pekerja. Pasal 169 ini seluruhnya dihapus dalam UU Cipta Kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *