aifpunews.com

media informasi masa kini

Tekanan AS dan Eropa Memaksa Turki Makin Dekat ke Rusia dan China

Seorang penulis dan analis politik bidang Asia Timur, Tom Fowdy, menilai sanksi keras AS dan Uni Eropa terhadap Turki, akan membawa Turki justru semakin dekat ke Rusia dan China. Ulasan Tom Fowdy ini dimuat di laman media Selasa 915/12/2020) WIB. Fowdy menekankan, Tayyip Erdogan telah mengubah cukup dalam posisi Turki. Washington telah menjatuhkan sanksi terhadap lima pejabat tinggi Turki, terkait pembelian sistem antirudal S 400 dari Rusia.

Keputusan Turki itu tak dikehendaki AS, mengingat klaim bahaya intelijen dan keamanan. AS kemudian mencoret Turki dari daftar pemesan jet tempur tercanggih F 35. Sementara Uni Eropa mengancam akan menghukum Turki terkait usaha penguasaan sumber minyak dan gas di Laut Tengah. Posisi Turki terhitung sangat unik, karena ia anggota NATO, yang seharusnya mematuhi aturan aturan dalam pakta militer tersebut.

Perselisihan tajam antara Turki dan AS serta Uni Eropa, menurut Tom Fowdy memperlihatkan kerenggangan geopolitik yang terus tumbuh di antara mereka. “Ini adalah bagian dari tren global, di mana kebangkitan populisme telah menantang struktur aliansi yang dulunya dianggap ortodoks,” kata Fowdy. “Pergeseran Ankara telah dipercepat pemerintahan Presiden Erdoğan dan meningkatnya otoritarianisme serta memperjuangkan nasionalisme Turki,” imbuhnya.

Sementara perselisihan antara Turki dan Yunani menurut Fowdy bukanlah hal baru. Namun perselisihan meluas Turki dengan Uni Eropa, AS, dan sanksi internal NATO menunjukkan titik terendah baru. Dalam iklim geopolitik seperti itu, kemungkinan besar akan membuat Ankara membina hubungan yang lebih dekat dengan Beijing maupun Moskow. Terpilihnya Erdogan pada 2014 menandai momen yang menentukan dalam sejarah Turki. Presiden telah menjauhkan negara dari ideologi Kemalis yang pro barat dan berorientasi liberal.

Erdogan menawarkan apa yang telah digambarkan sebagai nasionalisme populis 'Neo Ottoman' yang didasarkan pada pemerintahan orang kuat. Erdogan telah memaksa melalui sentralisasi agresif politik dan konstitusi negara, lalu melemahkan peran tradisional tentara. Sejalan dengan itu, ia telah mengejar kebijakan luar negeri yang semakin ambisius dengan tujuan menjadikan Turki sebagai pemain geopolitik utama.

Turki terlibat sangat dalam di konflik Suriah, Irak, Libya, Azerbaijan, dan menyalakan kembali perselisihan lamanya dengan Yunani. Perkembangan ini memaksa pembicaraan di Brussel terkait Turki yang hendak bergabung Uni Eropa, menjadi terhenti. Di sisi lain, krisis Suriah telah menjadi sumber ketegangan lain, yang pada akhirnya membuat Ankara menjalin hubungan sangat akrab dengan Moskow.

Turki melanggar salah satu aturan sakral terkait urusan kemiliteran di NATO, yaitu ketentuan anggota pakta dilarang membeli peralatan dari negara non NATO. Tetapi kegagalan Turki mendapatkan system antirudal Patriot, memaksa mereka menoleh ke Rusia. Transaksi pembelian sistem antirudal S 400 begitu cepat dituntaskan. Pengiriman telah dilakukan, dan kini Turki tengah melakukan uji penggunaan rudal tersebut. Erdogan secara terbuka mengabaikan peringatan AS.

Di sisi lain, memburuknya hubungan Ankara Washington serta sanksi ekonominya, secara perlahan membuat Lira Turki terpuruk. Secara domestik, Erdogan menghadapi krisis ekonomi yang sangat serius. Kondisi kondisi ini membuka peluang posisi Turki di NATO. Namun Tom Fowdy melihat tidak ada tanda Turki akan keluar dari keanggotaan NATO. Washington kemungkinan akan menahannya supaya Turki tidak keluar, mengingat strategisnya Turki di kawasan Timur Tengah.

Kehadiran Turki di NATO masih memiliki fungsi strategis dan pengaruh sangat kuat. Jadi menurut Tom Fowdy, sanksi keras Washington ke Turki bukanlah upaya mengasingkan Ankara. Cara itu dilakukan AS guna memaksa Turki kembali bekerjasama, dan terutama AS tidak ingin kehilangan monopoli (senjata) atas negara negara NATO. Turki bagaimanapun juga negara terbesar kedua di NATO, dan juga memiliki tentara terbesar kedua di blok itu setelah AS.

Namun, keadaan tidak akan membaik dalam waktu dekat. Realitasnya, situasi cenderung menjadi lebih buruk. Sementara Trump menentang Turki dari sudut pandang kepentingan militer Amerika, dia tidak begitu tertarik urusan politik domestik Erdogan. Di sisi lain, kemungkinan Presiden AS berikutnya. Joe Biden, akan tetap menjaga sikap keberatan Trump terhadap Turki.

Sisi lain, Biden yang berlatar liberal, akan menentang otoritarianisme yang dikembangkan Erdogan. Jika itu yang terjadi, sudah pasti Turki akan makin condong ke Rusia dan China. Turki memiliki ketergantungan tinggi ke Beijing di sector perdagangan dan investasi. Erdogan pun menoleh ke China untuk mendapatkan vaksin Covid 19. Di sektor transportasi, pecan lalu kereta barang pertama memulai perjalanan dari Turki ke China di bawah inisiatif Belt and Road.

Tom Fowdy menggarisbawahi, situasi politik seperti ini membuat Turki tidak ingin terisolasi karena pengasingan sekutu barat. Erdogan masih memiliki amunisi pamungkas jika Uni Eropa terus menekan mereka, yaitu membuka pintu lebar lebar, yang memungkinkan jutaan migran bergerak ke Eropa. Turki pada akhirnya akan terus menentang NATO, sembari memanfaatkan konflik itu untuk keuntungan mereka sendiri.

Sebaliknya, kerugian politik maupun ekonomi yang dialami Brussel dan Washington menurut Tom Fowdy, akan menjadi keuntungan Beijing dan Moskow.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *